Meneladani Riwayat Hidup Ibnu Sina dalam Mencari Ilmu Pengetahuan

Ibnu Sina
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mungkin setiap kita tidak asing lagi dengan sosok ulama yang kharismatik dan sangat berpengaruh baik di negara timur hingga negara barat ini. Ia dikenal dengan sebutan Ibnu Sina, yang dengan intelektualnya ia mampu menghipnotis seluruh penjuru dunia hingga saat ini.

Ibnu Sina Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā  (980 1037 H) kelahiran Persia yang sekarang di sebut dengan Iran, orang barat sering menyebutnya “Avicenna”. Ibnu Sina juga di juluki sang ensiklopedia dikarenakan luasnya ilmu pengetahuan yang ia miliki dalam berbagai bidang. Bahkan ia dijadikan rujukan oleh kalangan para ilmuwan. Dan ilmu yang berpengaruh darinya hingga saat ini yaitu ilmu kedokteran. 

Ibnu Sina mulai belajar filsafat di usia 8 tahun, juga telah hafal Al-Quran secara sempurna di usia 10 tahun. Ketekunannya dalam mencari ilmu sangatlah luar biasa. Suatu ketika Ibnu Sina membaca buku Aristoteles puluhan kali, namun tidak juga paham sehingga ia ditawari oleh penjual buku yaitu buku Imam Al-Farabi tentang penjelasan mengenai teori Aristoteles. Dan akhirnya melalui buku tersebut ia memahami teori yang dikemukakan oleh Aristoteles secara sempurna. Untuk merayakan kenikmatan yang telah didapat, ia pun mengadakan acara syukuran dan wiridan.

Sangat banyak penemuan yang didapat akhir-akhir ini, namun hakekatnya sudah ditemukan oleh Ibnu Sina. Misalnya pengobatan melalui terapi lintah, kita ketahui pengobatan ini dikenal akhir abad ini, akan tetapi itu sudah ditemukan pertama kali oleh Ibnu Sina.

Ibnu Sina adalah ulama yang mengetahui berbagai macam ilmu pengetahuan, karena dalam mencari ilmu ia tidak memilih guru, selama itu benar dan menghasilkan pengetahuan yang positif. Hidupnya dihabiskan hanyalah dengan mencari ilmu sehingga ia menjadi salah satu ulama yang tidak menikah hingga akhir hidupnya. Dikisahkan bahwa Ibnu Sina ketika malas berpikir ia membaca buku fiqih, yang mana seperti diketahui fiqih juga menguras pikiran dalam membacanya.

Kejeniusan Ibnu Sina yang dianugerahkan sang Ilahi kepadanya sangatlah luar biasa, ia mampu memahami metafisik Aristoteles dalam keadaan perang. Pada umur 18 tahun ia telah menjadi seorang dosen akibat dari kecerdasan yang dimilikinya dan menjadi pejabat negara pada masa itu. Namun dikarenakan banyak para pejabat yang iri kepadanya, ia pun dipenjara yang mana disana ia menulis kitab "Asy-Syifa".

Suatu ketika ia pernah menyembuhkan pangeran Al-Manshur dari penyakitnya. Kejadian tersebut membuat pangeran bahagia dan akan mengabulkan berbagai macam keinginan yang diminta oleh Ibnu Sina. Tapi ia meminta sesuatu yang sangat sederhana yaitu kebebasan untuk masuk perpustakaan negara.

Kehidupan Ibnu Sina diawali dengan rasional dan diakhiri dengan sufistik. Ia bertahun-tahun menekuni ilmu filsafat, akan tetapi ia malah mendapatkan ketenangan jiwa ketika ia memasuki ilmu Tasawwuf. Di samping ketekunannya dalam mencari ilmu, ia juga sangat taat dalam beribadah bahkan memiliki ciri khas, yaitu ketika ia sedang buntu dalam memahami suatu bidang ilmu, maka ia melakukan shalat 2 raka’at, setelah itu ia pun langsung mendapatkan pemahaman yang belum diketahui.

Penulis meyimpulkan dari rangkaian riwayat Ibnu Sina di atas, sangatlah banyak yang perlu kita teladani. Mulai dari minat dalam mencari ilmu, hingga keistiqomahan dalam ibadah. Coba kita bayangkan keadaan di masa sekarang ini, kita sangatlah krisis minat dalam mencari ilmu. Jikalau pun ada, terkadang memiliki tujuan tertentu. Sebagian kita terkadang  hanya sibuk menghabiskan waktu dalam mencari kesalahan orang lain, sebagian kita sibuk dalam mencari popularitas, bahkan ilmu yang dimiliki dijadikan sebagai alat kepuasan nafsu semata. Padahal sarana di zaman sekarang sangatlah mudah daripada zamannya Ibnu Sina. Pada masa itu, memasuki perpustakaan secara bebas dianggap sebagai suatu kenikmatan terbesar. Berbeda di masa sekarang yang mana semua serba instan. Segala pengetahuan dapat diakses melalui internet dengan mudah dan cepat tanpa harus jauh-jauh mencari perpustakaan. Namun minat kita dalam meraihnya sangatlah kurang, sehingga kita jauh tertinggal dengan mereka yang terdahulu dari segi intelektual.

Jika dilihat-lihat saat ini sangat sedikit manusia yang mampu menguasai berbagai macam ilmu sebagaimana yang dikuasai oleh Ibnu Sina. Mungkin Ibnu Sina secara bentuk material tidak ada lagi di masa sekarang, tapi keteladanannya, sifatnya, dan ketekunannya masih dapat kita hidupkan kembali. Bahkan dengan adanya generasi-generasi Ibnu Sina yang baru, kita dapat bersaing dalam dunia intelektual. 


"Pada akhirnya, penulis menegaskan mari kita menyibukkan diri untuk mencari berbagai macam ilmu pengetahuan dalam kehidupan ini ketimbang sibuk mencari kesalahan orang lain, mari kita memanfaatkan berbagai macam sarana yang sudah di sediakan, mari kita meneladani para ulama-ulama muslim terdahulu yang sampai saat ini karya mereka tidak pernah mati, mari kita berusaha menciptakan karya yang bermanfaat kepada khalayak".


0 Response to "Meneladani Riwayat Hidup Ibnu Sina dalam Mencari Ilmu Pengetahuan"

Post a Comment